PARADIGMA MATERIALISME
DIALEKTIS DALAM EPISTEMOLOGI KARL MARX
Marxisme adalah
pandangan filsafat yang sudah banyak diperbincangkan di indoensia dan seluruh
dunia. Ironisnya di Indonesia, secara hukum, marxisme masih dijadikan sebaagi
ideologi terlarang lewat TAP MPRS No. XXV/1966. Padahal marxisme merupakan
sebuah ideologi perlawanan terhadap ketidakadilan yang muncul dengan beraneka
ragam bentuk baik kepemimpinan otoriter, kapitalisme modern, ataupun bentuk - bentuk
lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan, apalagi negara yang
pernah mengalami luka sejarah akibat komunisme, sehingga wajar bila kesadaran
masyarakat disesaki oleh ide-ide pembumi hangusan marxisme atau hal-hal yang
berbau kiri.
Pada hampir semua
buku, marx diposisikan sebagai ideolog dari pada aktivitas epistemologi. Apalagi
ketika ajaran marx ini dibakukan menjdi sebuah ideolog oleh frederich engels
(1820-1895) dan karl kautsky (1854-1938). Dalam pembakuan ajaran yang rumit dan
sulit dimengerti, maka disederhanakan menjadi ideologi perjuangan kelas buruh. Namun,
dalam pembakuan marxisme klasik tersebut, terdapat penyimpangan dari yang apa sebenernya
di inginkan marx. Pembakuan ajaran marx
mencapi puncaknya ketika Partai komunis rusia di bawah Vladimir Ilyc Ulyanof
atau dikenal lenin sejak revolusi Oktober 1917 mengintrodusir Marxisme-Leninisme
menjadi ideologi internasional yang ditakuti. Kesalahan pemahaman ajaran marx
menimbulkan pengikut yang dogmatis dan fanatik. Padahal menurut michel hurrungton,
marx menginginkan kebebasan berpikir. Melihat teori-teorinya mengalami salah
tafsir marx mengucapkan, ‘’sepanjang yang saya tau, saya bukan seorang
marxis’’ (Muhammad Hatta, 1975:17).
Materialisme pada
dasarnya adalah bentuk radikal dari naturalisme. Naturalisme adalah pandangan yang hanya menerima
alam sebagai suatu relaitas. Sedangkan materialisme lebih terbatas yang berarti
adalah didunia ini tidak ada selain materi. Materialisme berpandangan bahwa
semua kejadian dan kondisi adalah akibat yang lazim dari kondisi-kondisi sebelumnya.
Sedangkan istilah dialektika yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Bila
ditelusuri lebih jauh, istilah ini telah terkandung pada filsafat Herakleitos
(500 SM) yang berarti pertentangan. Kemudian digunakan oleh Socrates sebagai
metode untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara-cara berdialog,
mempertanyakan, membahntah dan menjawab untuk memperoleh kepastian pengetahuan.
Istilah ini kemudian juga terlembaga dalam filsafat Hegel (1770-1831), yang
merumuskan dialektika sebagai teori persatuan dengan persatuan hal-hal yang
bertentangan.
Dalam konteks ini
marx dan engels menerima prinsip dialektik tersebut, namun menolak landasan
ontologis dialektika hegel. Kekeliruan hegel adalah menyajikannya dalam bentuk
mistik. Menurut Hegel dan kaum idealis lainnya alam merupakan hasil dari ruh
(absolut), sehingga dialektika yang muncul adalah dialektika idea. Artinya,
hanya terjadi pada dunia abstrak, yaitu dunia ide atau pikiran. Bagi marx,
segala sesuatu bersifat rohani adalah hasil dari materi, sehingga dialektika
yang dibangun marx adalah dialektika materialis. Sejak awal, prinsip materialisme
marx menentang materialisme dualistik yang populer dijamannya. Materialisme dualistik
adalah pandangan yang menganggap bahwa relaitas terdiri dari substansi yang
dapat dibagi, contohnya adalah dikotomi antara benda dan jiwa. Menurut marx,
hanya benda satu-satunya kenyataan yang dapat diamati, tetapi tidak sekedar
diamati saja, kenyataan itu merupaan aktivitas kesadaran manusia dan sekaligus
perbutan manusia. Maka dari pada itu, pengetahuan yang diyakini marx adalah
pengetahuan yang bersifat objektif dan ilmiah. Keteguhan marx untuk menerima
ilmiah sebagai satu-satunya oengetahuan berasala dari asumsinya tentang benda
sebagai kenyataan pokok.
Berdasarkan hal
ini, maka filsafat materialisme marx telah muncul pemahaman bahwa kenyataan
memunculkan kesadaran manusia. Materi pada akhirnya memunculkan sebuah ide. Tanpa,
materi kesadaran manusia tidak terbentuk dab tanpa bahan dasar (materi dan
dunia objektif) maka indra manusia tidak menerima apa-apa.
Kritik: Menurut saya, kesalahan utama dalam espistemologi
marx adalah keterputusan manusia dengan hal-hal transendental (adi-kodrati). Kaarena
dunia hanya dipahami sebagai materi atau benda, yang tidak mempunyai hubungan
dengan kekuatan-kekuatan ghaib. Tetapi tidak hanya itu, tetapi dalam menemukan
kebenaran tidak selalu melalui eksperimen empiris dan indra.
