Prawacana
Memberikan
Makna Bagi Epistemologi ‘Kiri’ Sejumlah Gagasan Besar Yang Menentang Sekaligus
Melawan
a.
Pengantar:
Stigmatisasi atas teminologi kiri
Istilah kiri
seharusnya menjadi sesuatu yang biasa bagi kita untuk membedakan dengan terminologi
‘kanan’’. Tetapi, terminologi ini menjadi luar biasa ketika diendapkan dengan
sebuah gerak sosial dan dimensi pemikiran. Bukan saja karena merusak dan
melawan, tetapi juga karena menyimpan sejumlah gagasan besar dan memainkan
peran signifikan dalam perubahan sosial. Menariknya terminologi ini kemudian
menjadi ‘’hantu’’ ketika dilabelkan sebagai simbol revolusi seperti:
sosialisme, marxisme, dan komunisme. Bahkan, dalam ruang kesadaran berfikir
manusia saat ini, telah terlanjur melembaga stigmatisasi atas
terminologi kiri. Hal seperti ini bukan terjadi tanpa dasar dan alasan. Apalagi
untuk bangsa yang pernah mengalami “luka sejarah” akibat komunisme wajar bila
kesadaran masyarakat kita di sesaki pembumihangusan akibat komunis. Masih segar
dalam ingatan kita tanggal 19 april 2001 terjadi sweping dan pembakaran
buku-buku kiri, khususnya buku yang menyimpan sejumlah gagasan besar seperti
marxisme. Hal seperti ini termasuk gerakan naif, karena membungkam pikiran
dengan gerakan fisik yang tidak mampu dilawan dengan pelemparan gagasan. Di
masyarakat kita (khususnya indonesai) telah terjebak dalam rekontruksi berfikir
yang salah kaprah, bahwa sesuatu yang mainstream atau berbeda darinya
adalah komunis. Wacana kiri adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa
melawan, merusak dan kadang memang nakal untuk menghancurkan segala sesuatu
yang bersifat mapan (establishment), terutama kekuasaan otoriter dan
kapitalisme modern. Bisa jadi kemapanan tersebut memuat suatu unsur yang
bersifat manipulatif untuk sekedar mempertahankan kemapanan tersebut. Inilah
yang menajadi spirit gerakan kiri, pembongkaran kekuasaan yang berlindung
dibalik jubah ideologi-ideologi.
Dalam
prespektif epistemologi, pemikiran dan gerakan kiri sesungguhnya telah
diletakkan pada pembacaan ulang secara kritis atas berbagai pengetahuan yang
dominan. Ketika sebuah pengetahuan ditampilkan sebagai kebenaran satu-satunya,
maka ia akan cenderung di nomor satukan sebagai kemapanan formal dan pada saat yang
bersamaan ia akan meminggirkan realitas kebenaran lain. Monopoli seperti itu
tampaknya bersumber dari logosentrisme, yaitu usaha memperoleh pengetahuan,
namun dipusatkan atau diseragamkan. Kebenaran bersifat monolitik, cukup satu
pintu saja. Tragisnya lagi bila kemudian atas nama kekuasaan keilmiahan
akademik bahkan kekuasaan gelar (professor, doctor, dan sebagainya) lalu
dimonopolilah kebenaran itu menjadi satu-satunya kebenaran. Monopoli kebenaran
seolah- olah menjadi hak profesor-profesor dan doktor-doktor kita, yang
menampilkan diri secara feodal sebagai raja-raja bagi sebuah imperium yang
namanya dunia ilmiah. Padahal, model monopoli kebenaran merupakan cerminan
pembelengguan kreativitas dan inovasi bagi realitas. Sesuatu yang berbeda
darinya dianggap salah, sesat, dan haram untuk di ikuti. Dengan ditumpasnya
pikiran-pikiran lain khsusunya kritis, tidak ada lagi kontrol atas
penyalahgunaan model kebenaran ilmiah, sebuah pengetahuan yang sentralistik.
Setiap kritik atasnya diaggap sebuah gerakan subversif. Akibanya, peradaban
menjadi mati, karena daya kreatifitas pikiran yang merupakan pijar-pijar
pencerahan dan benih tanaman pembaharuan dan dialektika penajaman pengetahuan
ditutup saluran eksresinya.
Referensi:
Penulis : Listiyono santoso
Tahun : 2007
Judul :
Epistemologi kiri.
Penerbit : Arruz Media