Tampilkan postingan dengan label sosialisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosialisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Stigmatisasi atas Terminologi "KIRI"

 

Prawacana

Memberikan Makna Bagi Epistemologi ‘Kiri’ Sejumlah Gagasan Besar Yang Menentang Sekaligus Melawan

a.       Pengantar: Stigmatisasi atas teminologi kiri

Istilah kiri seharusnya menjadi sesuatu yang biasa bagi kita untuk membedakan dengan terminologi ‘kanan’’. Tetapi, terminologi ini menjadi luar biasa ketika diendapkan dengan sebuah gerak sosial dan dimensi pemikiran. Bukan saja karena merusak dan melawan, tetapi juga karena menyimpan sejumlah gagasan besar dan memainkan peran signifikan dalam perubahan sosial. Menariknya terminologi ini kemudian menjadi ‘’hantu’’ ketika dilabelkan sebagai simbol revolusi seperti: sosialisme, marxisme, dan komunisme. Bahkan, dalam ruang kesadaran berfikir manusia saat ini, telah terlanjur melembaga stigmatisasi atas terminologi kiri. Hal seperti ini bukan terjadi tanpa dasar dan alasan. Apalagi untuk bangsa yang pernah mengalami “luka sejarah” akibat komunisme wajar bila kesadaran masyarakat kita di sesaki pembumihangusan akibat komunis. Masih segar dalam ingatan kita tanggal 19 april 2001 terjadi sweping dan pembakaran buku-buku kiri, khususnya buku yang menyimpan sejumlah gagasan besar seperti marxisme. Hal seperti ini termasuk gerakan naif, karena membungkam pikiran dengan gerakan fisik yang tidak mampu dilawan dengan pelemparan gagasan. Di masyarakat kita (khususnya indonesai) telah terjebak dalam rekontruksi berfikir yang salah kaprah, bahwa sesuatu yang mainstream atau berbeda darinya adalah komunis. Wacana kiri adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, merusak dan kadang memang nakal untuk menghancurkan segala sesuatu yang bersifat mapan (establishment), terutama kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern. Bisa jadi kemapanan tersebut memuat suatu unsur yang bersifat manipulatif untuk sekedar mempertahankan kemapanan tersebut. Inilah yang menajadi spirit gerakan kiri, pembongkaran kekuasaan yang berlindung dibalik jubah ideologi-ideologi.

Dalam prespektif epistemologi, pemikiran dan gerakan kiri sesungguhnya telah diletakkan pada pembacaan ulang secara kritis atas berbagai pengetahuan yang dominan. Ketika sebuah pengetahuan ditampilkan sebagai kebenaran satu-satunya, maka ia akan cenderung di nomor satukan sebagai kemapanan formal dan pada saat yang bersamaan ia akan meminggirkan realitas kebenaran lain. Monopoli seperti itu tampaknya bersumber dari logosentrisme, yaitu usaha memperoleh pengetahuan, namun dipusatkan atau diseragamkan. Kebenaran bersifat monolitik, cukup satu pintu saja. Tragisnya lagi bila kemudian atas nama kekuasaan keilmiahan akademik bahkan kekuasaan gelar (professor, doctor, dan sebagainya) lalu dimonopolilah kebenaran itu menjadi satu-satunya kebenaran. Monopoli kebenaran seolah- olah menjadi hak profesor-profesor dan doktor-doktor kita, yang menampilkan diri secara feodal sebagai raja-raja bagi sebuah imperium yang namanya dunia ilmiah. Padahal, model monopoli kebenaran merupakan cerminan pembelengguan kreativitas dan inovasi bagi realitas. Sesuatu yang berbeda darinya dianggap salah, sesat, dan haram untuk di ikuti. Dengan ditumpasnya pikiran-pikiran lain khsusunya kritis, tidak ada lagi kontrol atas penyalahgunaan model kebenaran ilmiah, sebuah pengetahuan yang sentralistik. Setiap kritik atasnya diaggap sebuah gerakan subversif. Akibanya, peradaban menjadi mati, karena daya kreatifitas pikiran yang merupakan pijar-pijar pencerahan dan benih tanaman pembaharuan dan dialektika penajaman pengetahuan ditutup saluran eksresinya.

 

Referensi:

Penulis       : Listiyono santoso

Tahun        : 2007

Judul          :  Epistemologi kiri.

Penerbit     : Arruz Media

  Kelompok 2 Kelas D Membuat Sebuah Sari Rempah- Rempah bernama " Sari Mu" Nama   : Ardan Bagus Jiwantono Nim     : 180321100073...